English
English
Vietnam
Thailand

Giovanni Malagò resmi terpilih sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) setelah meraih dukungan mayoritas dalam pemungutan suara di Roma. Ia unggul jauh dari pesaing utamanya dengan perolehan suara yang membuat posisinya tak tergoyahkan sejak putaran pertama. Proses pemilihan melibatkan ratusan delegasi dari berbagai sektor sepak bola Italia, dengan sistem suara yang terbagi berdasarkan bobot masing-masing kelompok, mulai dari liga profesional hingga asosiasi pemain dan pelatih.
Kemenangan Malagò dianggap sebagai hasil dari terbentuknya koalisi luas di luar Liga Amatir yang sebelumnya menjadi basis kuat salah satu kandidat lain. Hasil ini sekaligus menandai berakhirnya kepemimpinan sebelumnya dan membuka era baru di tubuh FIGC yang sedang berada dalam tekanan besar untuk melakukan perubahan. Momentum pergantian kepemimpinan ini juga dipengaruhi oleh kegagalan Italia menembus Piala Dunia, yang memicu desakan reformasi di berbagai aspek sepak bola nasional.
Setelah resmi menjabat, Malagò langsung menghadapi tantangan besar, terutama terkait penentuan pelatih baru tim nasional Italia. Ia menegaskan bahwa keputusan penting tersebut belum dibahas dan akan dimulai dari nol dengan mempertimbangkan kesesuaian visi, bukan sekadar reputasi nama besar. Di tengah munculnya sejumlah kandidat potensial, ia juga menekankan pentingnya membangun kembali fondasi tim nasional agar lebih stabil dan kompetitif di masa depan.
Selain urusan teknis timnas, Malagò juga menyoroti berbagai masalah struktural dalam sepak bola Italia, termasuk birokrasi dan regulasi finansial yang dinilai menghambat perkembangan liga domestik. Ia menilai sistem yang ada sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan modern, sehingga reformasi menyeluruh menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Dengan agenda besar seperti persiapan EURO 2032 di depan mata, kepemimpinannya di FIGC akan sangat ditentukan oleh kemampuan melakukan perubahan nyata dalam waktu dekat.